Selasa, 29 April 2008

mengarang yuuukkkkk


Agar Menulis – Mengarang Bisa GAMPANG


Untuk mendapatkan teknik-teknik menulis yang baik, anda perlu mendapatkan buku-buku lainnya yang membahas tentang itu.


1. Keterampilan Sekolah Dasar

Bisakah anda mengatakan kepada diri anda sendiri bahwa “saya pasti bisa mengarang, sebab mengarang adalah keterampilan

sekolah dasar?”

Pertama-tama ingin saya katakan bahwa keterampilan mengarang, entah itu karya fiksi (cerpen, novel, dsb) atau nonfiksi (artikel, buku, dsb), adalah keterampilan tingkat sekolah dasar. Artinya, saya berkeyakinan bahwa sampai batas tertentu SEMUA ORANG yang telah tamat SD bisa mengarang.

Apa yang ingin saya katakan dalam kesempatan ini adalah bahwa untuk bisa mengarang orang harus mulai dari keyakinan bahwa hal itu MEMANG BISA dilakukan, setidaknya bagi siapa saja yang sudah pernah duduk di sekolah dasar.

2. Visi dan Motivasi

Mengarang hanya bisa gampang kalau ada tujuan, visi dan sasaran yang membangkitkan motivasi juang.

Tentu saja orang bisa mengarang dengan tujuan sederhana untuk memperoleh uang, seperti yang mungkin menjadi motivasi sebagian besar wartawan media-media tertentu. Orang bisa menulis dengan tujuan memperoleh popularitas dalam tingkat tertentu. Orang bisa mengarang dengan maksud untuk menyenangkan atau memberikan kritik kepada pihak tertentu. Orang bisa juga mengarang untuk tujuan mempengaruhi pikiran pembacanya. Pendek kata orang bisa mengarang dengan seribu satu macam alasan, dan itu sah-sah saja.

Apapun tujuan anda, yang penting kenalilah hal itu, sebab mengarang hanya bisa gampang kalau ada tujuan, visi, sasaran yang membangkitkan motivasi juang. Tanpa itu, mengarang bisa jadi sangatlah sulit, sekalipu anda sudah tamat sekolah dasar.

3. Bersikap Rasional

Rajinlah mengunyah-ngunyah pertanyaan, dan anda akan mudah menemukan ide-ide yang bisa ditulis, sehingga mengarang bisa jadi gampang.

Bagi saya, mengarang adalah salah satu cara belajar. Banyak hal yang saya pelajari menjadi lebih kuat melekat dalam ingatan karena saya olah menjadi tulisan. Pada saat saya menulis, berbagai ide dan gagasan yang simpang siur harus mulai disusun secara sistematis agar dapat dipahami orang lain dengan baik. Proses penyusunan ide-ide itu akan membawa saya pada pengenalan akan ide-ide orang lain dan pendapat pribadi saya terhadap ide-ide tersebut. Lalu saya harus belajar menyusun argumentasi untuk menopang ide saya agar masuk akal (rasional). Dengan demikian, keterampilan mengarang sesungguhnya mengembangkan sikap rasional dalam diri si pengarang itu sendiri.

4. Sumber Ilham

Apa yang ingin saya katakanlah adalah bahwa mengarang bisa gampang kalau kita punya cinta. Segampang seorang remaja belia menulis puisi-puisi romatins ketika merasa “jatuh cinta”.

Ketika saya mulai mengarang artikel dan buku-buku, saya merasa sedang belajar mengekspresikan rasa cinta yang tumbuh di hati saya. Cinta itu terutama tertuju kepada bangsa ini, kepada orang-orang di sekitar saya, kepada segala sesuatu yang saya lihat, saya dengar, saya amati, dan saya pelajari. Saya pernah berkata, “saya sedang jatuh cinta kepada Indonesia” justru ketika negeri ini sedang dilanda krisis multidimensional (krisis dimulai pertengahan 1997 dan buku pertama saya diterbitkan September 1998).

Apakah anda punya cinta? Apakah anda mencintai hidup dan kehidupan? Apakah anda mencintai Tuhan? Apakah anda mencintai diri sendiri dan sesama? Apakah anda mencintai pekerjaan anda? Apakah anda mencintai mahluk-mahluk hidup dan benda-benda ciptaan Tuhan lainnya? Kalau ya, mengarang bisa gampang. Sebab cinta adalah sumber ilham yang tiada taranya.

5. Pemicu Ide

Pendek kata, pemicu ide ada di mana-mana. Yang dibutuhkan hanyalah suasana hati yang kondusif dan kebiasaan mengamati situasi sekitar.

6. Tiga N

Nah, bagi siapa saja yang baru tahap belajar mengarang, ingatlah pesan berikut ini: niteni (mengamati), nirokke (meniru), nambahi (menambahkan).

Tiga kata dalam bahasa Jawa itu diajarkan Mardjuki, seorang penulis kreatif yang cukup dikenal oleh para wartawan di Yogyakarta, saat melatih saya menulis berita dan menerbitkan media alternatif di tahun 1987.

Dari ajaran Mardjuki yang usianya pantas untuk menjadi ayah saya, dapat dipetik pelajaran bahwa menjadi “pengamat” saja tidak cukup untuk menjadi pengarang yang produktif.

7. Supernova

Mengarang bisa gampang kalau kita punya komitmen, kesungguhan hati, determinasi atau tekad bulat. Mengarang bisa gampang kalau kita punya keyakinan dan kepercayaan diri yang tinggi bahwa kita bisa. Mengarang bisa gampang kalau kita punya minat dan ambisi yang kuat untuk membuktikan sesuatu yang kita yakini sebagai “kebenaran” atau sekurang-kurangnya lebih dekat dengan “kebenaran” itu.

8. Komitmen

Jadi mengarang bisa gampang kalau ada komitmen, janji pada diri sendiri – tentu saja, kalau komitmen itu diniati untuk benar-benar ditepati.

Sederhananya, apa yang disebut komitmen dapat dipahami sebagai “janji pada diri sendiri”. Dan mengarang bisa gampang kalau kita mau berjanji pada diri sendiri bahwa “saya akan menulis dan terus menulis sampai menjadi penulis profesional”.